Jumat, 05 September 2014

FILM DOKUMENTER II (Menuju Pra produksi )

“Documentary is a creative  treatment of actuality”

(Robert Flaherty , 1926)
Dalam film dokumentar selain mengandung fakta juga memuat subjektivitas si pembuatnya. Artinya apa yang kita rekam memang berdasarkan fakta yang ada, namun dalam  penyajiannya kita memasukkan pemikiran kita, ide-ide kita dan sudut pandang idealisme kita.
Perlakuan dalam pembuatan film dokumenter itulah yang disebut:
                  “Creative treatment”
Artinya : kita dituntut lebih kreatif dalam melihat sekeliling kita.
Kreatif itu membuat kejadian yang terlihat biasa, tanpa merekayasanya menjadi istimewa di mata orang lain
Langkah-langkah membuat film documenter
1. Menemukan Ide
2. Menuliskan Film Statement
3. Membuat Treatment atau outline
4. Mencatat Shooting List
5. Menyiapkan Editing Script
Menemukan Ide
1. ide datang begitu saja…
mis, ketika baca koran, dengar radio,buka situs, baca selebaran, dengerin kuliah, dimarahin ortu,ngobrol di cafe, kena tilang polisi….dll
2. ide itu ada di sekeliling kita…
lihat lingkungan tempat tinggalmu, sekitar kampusmu, di jalanan, di terminal,di rumah sakit, di tempat sampah, di stasiun…
3. ide paling sering muncul ketika dalam perjalanan atau di pinggir jalan…
4. ide biasa menjadi istimewa
Dian Herdiany (aktivis Indonesian Documentary) :
  “ Dokumenter itu melihat sesutau di sekitar kita, sesuatu yang tidak terlihat atau memang tidak mau kita lihat
5. Ide istimewa menjadi biasa
Ubah lagi pandangan bahwa sesuatu yang istimewa kemudian menjadi biasa (karena sudah ter’biasa
6. Ide spektakuler kadang perlu melihat sesuatu dengan logika terbalik….
Menuliskan Film Statement
  • Setelah muncul ide maka mulailah merencanakan sebuah karya film…
  • Biasanya ide yang sudah berputar2 di kepala perlu dirumuskan dalam satu paragraf kalimat…
  • Itulah yang disebut Film Statement…
Ilustrasi:
Ide:
“ Bagaimana sesungguhnya sosok seorang satpol pp di tengah maraknya penggusuran PKL”
Film Statement
“ Penertiban PKL selalu membawa cerita pedih bagi kalangan masyarakat bawah. Sumpah serapah tak luput ditujukan pada para petugas Satpol pp. Padahal mereka juga manusia biasa.Hidupnya juga tak semuanya mapan. Mungkin saudaranya ada yang juga PKL. Bagaimana polemik sebagai pribadi dan sebagai petugas bergejolak? Bagaimana petugas satpol pp harus menghadapi itu semua? Dalam penggusuran siapa saja yang jadi korban sesungguhnya?”
Sebelum membuat treatment kita perlu membuat riset kecil2an…
1. cari informasi sebanyak2nya dari berbagi sumber tentang ide film yang akan digarap…
2. datangi lokasi, ambil stok gambar/foto dan bila perlu lakukan wawancara dengan orang-2 yang terkait ide kita
Merencanakan strategi sebelum masuk medan perang
1. Pilih kejadian mana yg akan direkam mana yang tidak
2. mulai menentukan subjek yang menarik atau ‘aktor utama’ film dokumenter kita
Pemilihan Karakter/Aktor
  • Cari yang enak diajak bicara…
  • Cari yang terbuka terhadap kita…
Mengondisikan Lingkungan
  • Mulai memasuki lingkungan dengan “membawa kamera” tapi belum shooting beneran…
  • Tujuannya mengondisikan masyarakat supaya terbiasa dengan kehadiran kita plus kamera dan ketika shooting sungguhan mereka sudah tidak ‘nggumunan’…
Melakukan Riset Visual
  • Buka mata lebar-lebar dan perhatikan apa saja yang ada di lokasi tempat film itu akan dibuat.
  • Pilih angle mana yang menarik secara visual photografis…
  • Bila perlu dokumenkan angle dengan foto digital…
Mulai Membuat Outline
Membuat cerita rekaan tentang film dalam istilah film pre-production script….atau outline…
Peran penting Outline
1. Outline menjadi dasar pembuatan Script
2. Setiap paragraf dalam outline akan berperan sebagai sequence-sequence  yang akan membantu kita mengetahui hal apa saja yang harus diambil gambarnya untuk film
Lihat contoh Outline karya Fajar Nugroho berikut ini:
Kerajaan di Tepi Bengawan
Seorang gadis remaja, pulang dari gemerlap ibukota jakrta, tujuannya sebuah kota di Jawa Tengah bagian Selatan. Sebuah kota yang terletak di tepi Bengawan Solo. Sebuah kota yang dulunya sebuah desa bernama Solo. Di desa itulah, sekitar 3 abad lalu berdiri sebuah kerajaan dari darah keturunan Dinasti Mataram. Sebuah kerajaan yang dalam perjalanan waktunya penuh dengan pergolakan….. [    ]
Gadis remaja itu, Gusti Raden Ayu Timoer, lahir di Keputren Kraton Kasunanan Surakarta, dan melewati masa kecilnya di dalam benteng kerajaan. Ayahnya adalah….[   ]
Sejarah panjang dan turun-temurun pergolakan di tubuh Dinasti Mataram sendiri bermula ketika Dinasti ini mulai mendirikan kerajaanya di sebuah desa bernama Pleret…..[    ]
Pergolakan-pergolakan itu, membuat kerajaan Kartosura Hadiningrat hancur berantakan. Maka, …. [    ]

Dan seterusnya outline secara runtut berkisah mengenai pergolakan dalam kerajaan dan bagaimana kedudukan Putri Timoer sebagai anak tertua raja  yang tak mungkin menggantikan ayahandanya.
Outline di atas adalah contoh outline untuk film cerita rekaan. Dalam film dokumenter pada dasarnya juga tetap menampilkan benang merah apa yang terjadi dengan karakter utama, di suatu setting di suatu masa…pertanyaan yang harus dijawab adalah pertanyaan seputar siapa, apa, bagaimana, mengapa dan selanjutnya seperti apa…..
Fungsi Script
1. Script adalah alat struktural dan organizing yang dapat dijadikan referensi dan guide bagi semua orang yang terlibat
2. Script penting untuk kerja kameraman, karena dengan script kamareman akan menangkap mood, peristiwa ataupun masalah teknis dengan kerja kamera nantinya.
3.Script penting untuk panduan kerja editor nantinya.
Penting dalam pembuatan script
Dalam tahap pre-production – pembuatan script sudah mulai dipikirkan alur dramatic dalam struktur tiga babaknya….yaitu pengenalan tokoh– puncak dan penutup
Menentukan Sudut Pandang
1. Objective Point Of View (sudut pandang si pembuat film)
2. Native Point of View (sudut pandang sang pelaku )
Membuat Shooting List
Apa itu Shooting List?
Perkiraan-perkiraan apa saja gambar yang dibutuhkan untuk film nanti
Dasarnya adalah outline yang sudah kita buat.
Yang penting dalam Shooting List
  1. Merekam keseharian aktor utama/subjek kita
  2. Urutkan dari yang paling penting atau momen yang tidak bisa diulang
  3. Jangan pernah melupakan detil visual
Contoh Shooting List
  • Establish pedagang kaki lima jensud
  • Aktivitas PKL
  • Wawancara PKL
  • Establish kantor/markas satpol pp
  • Wawancara komandan satpol pp
  • Close up mobil satpol pp dengan pasukannya
  • Establish pasar wage
  • Penggusuran/penertiban
  • Wawancara Satpo pp
Dari Shooting List ke Shooting Schedule
Berdasar pd shooting list buat shooting schedule seperti contoh :
HARI 1 – Senin
  1. Situasi PKL Jensud
  2. Aktivitas PKL
  3. Wawancara dengan ketua Paguyuban PKL
dst………..
Hal lain yang perlu dipersiapkan
1. Membuat draft /acuan wawancara dengan subjek
2. Membuat Release Form ( surat kesediaan dari sumber bahwa hasil wawancara akan masuk dalam film dan persetujuan untuk dipublikasikan )…surat ini ditandatangi oleh subjek setelah dilakukan wawancara
Referensi :
Fajar Nugroho. 2007. Cara Pinter Bikin Film Dokumenter.Penerbit Indonesia Cerdas.  Yogyakarta.

Apa itu Video Editing?

Video Editing

APA ITU EDITING?
Editing adalah suatu proses mengatur dan menyusun rangkaian shot demi shot menjadi satu scene, scene demi scene menjadi suatu sequence, akhirnya merupakan suatu rangkaian shot dari suatu cerita yang utuh.
EDITOR paham ide cerita?
• Tentu saja karena dia adalah asisten/ sutradara di proses akhir yang sangat menentukan kualitas program
• Pahami tema dasarnya
• Pahami plot atau alur ceritanya
• Punya kepekaan tentang keingintahuan penonton ( berorientasi pada penonton)
• Ikut memutuskan dan memilih apa yang penting dan membuang apa yang tidak penting dalam konteks seluruh cerita.

JENIS PERPINDAHAN SHOT
CUT adalah perpindahan langsung dari suatu shot ke shot berikutnya secara tajam. Cut paling sering digunakan dalam editing sebagai pergantian gambar dalam suatu scene ( adegan )
DISSOLVE (MIXING) adalah perpindahan shot secara berangsur-angsur. Akhir suatu shot sedikit demi sedikit bercampur dengan shot berikutnya, shot pertama hilang secara perlahan-lahan ditimpa oleh shot kedua yang muncul secara perlahan-lahan dan akhirnya jelas sama sekali.
Berfungsi untuk menunjukkan percepatan waktu (time laps) atau suatu proses perubahan.

EXTERNAL KEY
Special efek dengan 3 sumber video dimana salah satunya menampilkan gambar tertentu, berfungsi sebagai kunci dalam menampilkan gambar 2 gambar dari 2 sumber secara bersamaan.

CHROMA KEY
Special efek dimana objek ditempatkan di depan latar belakang dengan warna tertentu (biasanya biru) dapat dipotong dan dimasukkan ke dalam latar belakang yang lain.

EFEK DASAR EDITING
• FADE : biasanya digunakan pada awal dan akhir adegan. Jenis Fade adalah Fade In, Fade Out, Fade From Black dan Fade To Black.
• WIPE : efek dimana suatu shot disapu oleh shot lain sehingga shot yang pertama nampak terdorong keluar dari bingkai layar ( pergantian topik atau suasana )
• SPLIT SCREEN
Special efek dimana layar dibagi menjadi 2 bagian atau lebih yang masing-masing bagian menampilkan gambar yang berbeda.
• SUPER – IMPOSE
Special efek dimana 2 gambar saling tindih ditampilkan pada saat yang bersamaan ( menunjukkan kesinambungan maksud )

PRINSIP-PRINSIP EDITING :
• Jangan menyambung gambar dengan cutting, dissolve, panning atau tracking tanpa motivasi atau maksud yang jelas
• Jangan menyambung 2 shot dari objek yang sama dalam format yang sama besar.
• Jangan mengabaikan fungsi Long Shot, terlalu banyak Close Up akan membosankan.
• Secepat mungkin sesudah berpindah ke adegan baru, berilah sebuah Long Shot dari adegan tsb untuk menunjukkan lokasi dan suasana yg baru.
• Apabila ada “tokoh baru” masuk atau tokoh yang agak lama tidak muncul, buatlah Close Up dari “tokoh” itu.
• Jangan menyambung 2 shot dari objek yang sama dalam jarak yang ekstrim.
• Jangan menyambung 2 shot dari objek yang sama dimana posisinya berlawanan arah. Shot-shot ini biasanya dihasilkan oleh kamera yang sudut pengambilannya berpindah dari satu sisi ke sisi yang lain dari “Garis Axis “ ( imajiner )
• Jangan memotong ditengah-tengah shot pada saat kamera bergerak (panning atau zooming).Kalau terpaksa gunakan effek dissolve agar lebih smooth (halus)
• Jangan membuat cutting diantara 2 kamera yang bergerak, terutama ketika kamera panning atau diantara 1 kamera yang bergerak dan kamera statis ( tidak bergerak )
• Lakukan Cut On Moving pada saat objek dalam gerakan.
• Hindari Fast Dissolve, berilah waktu 2-3 detik sebagai standar dissolve dari gambar 1 ke gambar berikutnya.
• Bila membuat Fade In “caption pembuka” pada awal program, jangan biarkan gambar mendahului suara/musik.
• Gerakan rolling caption pada kecepatan yang sama
• Jangan menampilkan caption yang mengatakan sesuatu, sementara komentar mengatakan sesuatu yang lain. Mata dan telinga tidak bisa menerima informasi yang bertentangan.
• Jika membuat superimpose caption pada sebuah background gambar, hendaknya warna tulisan kontras dengan warna background sehingga tulisan jelas dan terbaca.
• Dalam suatu interview, cut biasanya dilakukan pada akhir dari pertanyaan atau jawaban, karena cutting pada akhir dari suatu kalimat atau frasa akan menghasilkan suatu irama yang jelas daripada ditengah-tengah.
• Buatlah cut, dissolve dan fade sesuai dengan irama musik atau komentar. Buatlah cut atau fade out musik pada akhir kalimat musik, jangan ditengah-tengah.

Seorang editor memegang peranan penting “ final touching “ suatu program,
karena dialah yang menyusun secara artistik dan dramaturgis suatu susunan gambar
yang mampu mengekspresikan suatu makna kepada penontonnya